Hampir rata-rata para ayah muda
dimasa kini akan mengejar habis-habisan karir yang mereka emban. Hal itu di
lakukan lantaran obsesi pribadi maupun memang tuntutan kerja saat ini yang benar-benar
luar biasa bebannya baik pikiran maupun waktu.
Tak ayal akhirnya manakala sang
ayah tiba di rumah, kondisi badan sudah lunglai tak bertenaga dan waktu pun
sudah gelap gulita.
Disaat energy yg sangat menipis
tersebut sang anak yang masih berumur balita dengan riangnya berlari menuju
sang ayah. Dengan gembiranya ia menunjukan hasil karyanya berupa gambar dari
goresan krayon yang di belinya bersama bunda tadi pagi.
Dengan riangnya ia ber teriak “ayah-ayah
liat deh gambarku, bagus gak?”
Sang ayah dengan sisa energinya
lalu menyapa “iya nak bagus gambarmu”.
Sang anak” Yah, temenin aku yuk
gambar lagi…….”
Sang ayah: “iya nak ayah temenin
deh”
Lalu sang anak bergegas mengambil
peralatan gambar dan mulai menggambar, sementara sang ayah dalam hitungan menit
tertunduk perlahan dan akhirnya tak kuasa menahan kantuk dan mendengkur……..zzzzzzz……
Sang anak yg sudah selesai
menggambar, lalu berniat menunjukan gambarnya ke sang ayah ternyata menemui
kenyataan bahwa hasil karyanya tak mendapat pujian lagi karena sang ayah sudah
tidur pulas di sampingnya. Dan akhirnya kecewalah hatinya malam itu.
Sahabat ayah yang baik. Kejadian
diatas bukanlah hal aneh yang terjadi pada ayah-ayah jaman sekarang. Energi
untuk anak kita ternyata hanya sisa yang mereka dapatkan. Sehingga dengan ini banyak
dari mereka tumbuh dengan kekecewaan. Energi kekecewaan yang memancing energy negative
bagi pertumbuhan phisik maupun kejiwaannya.
Untuk itu, mari kita menyediakan energy,
waktu dan semangat positif untuk anak-anak kita agar masa terbaik mereka
(Golden Moment) tidak tersia-sia dan mereka bertumbuh dengan energy positif
demi tumbuh kembang mereka menjadi pribadi-pribadi hebat untuk menghadapi
tantangan hidup dimasa depan kelak.
Semoga menjadi pembelajaran buat
kita, semangat perubahan untuk menjadi ayah yang terbaik bagi generasi penerus
kita.
Sudrajat Aryadi
Sang petualang hidup

Komentar
Posting Komentar