Umumnya setiap orang hanya
berfokus pada melaksanakan, menjalankan, atau sekedar menuruti keadaan. Belum banyak orang yang berfikir untuk “membangun
nilai” atau istilah kerennya value creation. Dalam dunia bisnis orang sering
menyebutnya membuat nilai tambah. Sebagai contoh: jika 1 kg besi di hargai
hanya 7,000 rupiah perkilonya. Lalu bagaimana membuatnya menjadi bernilai 100,000
rupiah? Yap…. Banyak orang mungkin bingung memikirkan bagaimana menaikan
nilainya yah?
Nah sederhana saja, jika 1
bongkah besi seberat 1 kg tersebut di buat menjadi 1000 buah jarum jahit
seharga 100 rupaih per buahnya, maka tentu nilainya otomatis akan berubah.
Untuk mengubah seonggok besi menjadi 1000 buah jarum tentunya di butuhkan ilmu
membuat jarum dari mulai bongkahan sampai menjadi jarum dengan ujung yang
lancip-2 tersebut.
Ya Itulah “ilmu”. Ilmu dapat
mengubah apapun dari yang kurang bernilai menjadi lebih bernilai atau bahkan
sangat bernilai. Hal inilah yang
mestinya di ajarkan kepada anak-anak kita bahwa mereka bersekolah, belajar,
berlatih dan berusaha adalah upaya mempersiapkan diri mereka untuk mampu
menelorkan ide-ide kreatif untuk membangun nilai tersebut.
Saat ini, fenomena pembelajaran
di sekolah mayoritas berbasis “lulus ujian”, “lulus test masuk perguruan tinggi”,
dan sekali lagi hanya sekedar lulus dengan nilai tinggi. Fenomena pendidikan di
sekolah saat ini masih belum beranjak untuk mengubah paradigma anak-anak kita
untuk berfikir kreatif dan tahu akan manfaat apa yang mereka pelajari di
sekolah.
Untuk itulah dari pada kita
meratapi keaadaan yang terjadi di sekolah, ada baiknya kita sebagai ayah dari
anak-anak kita memulai menanmkan kesadaran membangun nilai ini kepada anak-anak
kita di mulai dari rumah kita masing-masing. Sadarkan anak-anak kita akan
pentingnya membangun nilai dengan memberikan ilustrasi-ilustrasi di atas.
Dengan ilustrasi yang sederhana maka apa yang kita sampaikan akan mudah di
fahami oleh anak-anak kita.
Bahwa dengan mereka belajar
matematika, sehingga mereka bisa menghitung berapa keuntungan penjualan sepatu
futsal mereka. Bahwa dengan belajar fisika, mereka mampu mempercepat perjalanan
dengan metoda percepatan. Bahwa dengan belajar kimia, mereka dapat membuat
pupuk yang nantinya akan mensejahterakan ribuan bahkan jutaan petani di seluruh
Indonesia. Terus dan teruslah kita tak pandang waktu dan tenaga untuk terus
menyadarkan anak-anak kita akan pentingnya membangun nilai. Dengan pendekatan
pengajaran yang berlandaskan kasih sayang di harapkan anak-anak kita akan sadar
dengan senidirnya untuk terpacu mempelajari pelajaran-pelajaran yang mereka
dapat di sekolah maupun di pelajaran atas kejadian-kejadian dalam hidup mereka.
Bangun jiwa anak-anak kita untuk menjadi manusia yang manfaat dengan cara
membangun nilai tersebut. Diharapkan setelah besar nanti mereka tidak hanya
memikirkan karir dan kebutuhan perut
mereka semata, akan tetapi mampu meningkatkan nilai dari apa yang mereka
upayakan sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh ribuan bahkan jutaan orang.
Kelak mereka mampu memiliki perusahaan besar yang nantinya mampu menjadi lading
penghasilan bagi jutaan pekerja. Daripada hanya sekedar memenuhi kebutuhan
perut semata kini menjadi pemenuhan rezeki bagi ribuan manusia. Itulah tujuan
hidup penciptaan manusia sebenarnya. Maka mari kita mulai menanamkan paradigma “membangun
nilai” pada anak-anak kita.
Sudrajat Aryadi
Seorang yang masih belajar menjadi ayah yg baik
Sudrajat Aryadi
Seorang yang masih belajar menjadi ayah yg baik


Komentar
Posting Komentar